HAMBATAN ADMINISTRATIF DAN OPERASIONAL DARI ADOPSI TEKNOLOGI CETAK 3D PADA SEKTOR UMKM

Authors

  • Didit Darmawan Universitas Sunan Giri Surabaya
  • Ahmad Rafi Faisal Izyan Universitas Sunan Giri Surabaya
  • Panji Prima Rosuli Universitas Sunan Giri Surabaya
  • Mochamad Saleh Universitas Sunan Giri Surabaya
  • Syaiful Anwar Universitas Sunan Giri Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.58406/sainteka.v7i2.2421

Keywords:

manufaktur aditif, pencetakan 3D, UMKM, hambatan administratif, hambatan operasional.

Abstract

Manufaktur aditif atau pencetakan 3D menawarkan peluang bagi usaha kecil dan menengah (UKM) dalam produksi skala kecil dan kustomisasi massal. Namun, tingkat adopsi di kalangan UKM di negara-negara berkembang masih rendah. Studi literatur kualitatif ini mengkaji hambatan administratif dan operasional yang membatasi penerapan teknologi pencetakan 3D oleh UKM. Hambatan administratif meliputi ketidakhadiran standar produk, prosedur impor yang rumit untuk mesin dan bahan baku, serta perlindungan hak kekayaan intelektual yang lemah untuk file desain digital. Hambatan operasional mencakup kekurangan tenaga kerja terampil, pasokan bahan baku yang sulit, biaya pemeliharaan yang tinggi, ketidakcocokan kapasitas produksi, pengetahuan yang terbatas tentang optimasi desain, dan akses yang terbatas ke platform e-commerce. Kendala keuangan dan ketimpangan geografis semakin memperparah masalah-masalah ini. Model kebijakan yang berhasil dari Jerman dan Singapura memberikan pelajaran untuk perancangan intervensi. Pendekatan terkoordinasi antar kementerian diperlukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang saling terkait ini.

Downloads

Published

2026-06-30